Shits, Poop and Crap Cartoons

November 1st, 2005 by pidie

Ini situs jorok bener. tapi udah lama saya lihat2 & lumayan kalau lagi iseng: www.doodie.com . enjoy your shit!

Aceh: Hukum Cambuk = Hukum Islam????

October 20th, 2005 by pidie

Sebenarnya saya mencoba menghindari membahas isu hukum cambuk dalam konteks agama Islam. Semata2 karena saya tidak ahli dalam hal agama Islam (syariah) dan saya bukan penganut Islam yg baik. Tapi karena selalu muncul pertanyaan yg sama dari teman2, baik serius maupun sekedar sinisme, ya jadi lah catatan ini. Menyadari keterbatasan pemahaman saya tentang agama Islam, maka catatan ini semata-mata dari aspek logis saja, aspek agama putuskan sendiri2.

Dengan pelaksanaan hukum cambuk di Aceh, baik terhadap penjudi maupun pelaku khalwat (mesum or bermesraan diluar hubungan nikah), ada loncatan kesimpulan (jump into conclusion) bahwa telah dilaksanakan hukum Islam. Loncatan kesimpulan ini muncul karena ada kesamaan hukuman cambuk yg dilakukan dengan yg dimaksud dalam Al Quran/Hadits serta tradisi di masa Nabi/sahabat.

Saya sendiri tidak mau buru2 memutuskan apakah hukum cambuk di Aceh itu sama dengan hukum Islam, atau sebaliknya: kezaliman berkedok Islam.

Berikut logikanya.

Pertama, hukum Islam harus lah meletakkan Al Qur’an & hadits sebagai sumber hukum tertinggi. Dalam praktek hukum cambuk di Aceh, hukuman dilaksanakan berdasarkan Qanun, dimana Qanun memiliki landasan UU Otonomi Khusus, yg mana UU Otonomi Khusus adalah derivasi UUD 1945 & Pancasila. Hmmmm, dimana Al Qur’an dan Hadits??? Entah lah.

Kalau pun disebut Al Qur’an dan hadits, jangan2 hanya sebagai sampiran.

Lucunya, Qanun itu dinyatakan untuk menggantikan hukum sekuler yg sering dirasakan tidak adil. Tapi mengapa Qanun harus berdasarkan hukum sekuler yg dirasa tidak adil tsb??

Seorang teman berargumen bahwa di Malaysia penerapan hukum Islam juga dilaksanakan didalam negara yg berdasarkan hukum sekuler. Respon saya: tidak pernah saya dengar dlm Islam pernyataan “ikutilah Malaysia”. Yg selalu saya dengar: ikutilah Al Qur’an & Hadits (btw, kalau ikut Malaysia, berarti Aceh juga perlu segera mendirikan lokalisasi judi seperti Genting???).

Kedua, prinsip pelaksanaan hukuman. Prinsip disini termasuk: pelaksanaan yg tidak parsial atau diskriminatif dan dilaksanakan oleh orang2 yang adil.

Bila ingin menegakkan hukum cambuk yg Islami, saya kira pelaksanaan hukum cambuk (atau teman2-nya) tidak boleh diskriminatif. Hanya berlaku bagi rakyat sipil, TNI/Polri tidak berlaku hukum Syariah. Hanya berlaku untuk kejahatan kecil yg biasa dilakukan rakyat kecil (spt mencuri, judi), tidak berlaku bagi pelaku kejahatan berat seperti koruptor, pemerkosa, dan pembunuh.

Satu pendapat menyatakan: belum berlakunya hukum syariah bagi koruptor, pemerkosa, dan pembunuh karena belum ada Qanun-nya. Saya bingung, dalam Al Qur’an & hadits sudah jelas hukuman bagi koruptor, pemerkosa, dan pembunuh, mengapa harus nunggu Qanun. Jelas2 Qanun tsb banyak direkayasa oleh eksekutif, legislatif, dan TNI/Polri yg jadi dalang utama pelaku korupsi, perkosaan, dan pembunuhan. Bila Al Qur’an dan Hadits harus menunggu Qanun penerapannya, jelas aneh sekali. Mengapa hukum Al Qur’an & hadits harus tunduk kepada hukum2 sekuler buatan orang2 yg zalim???

Timbul masalah juga dengan orang pelaksananya. Hukum yg adil hanya bisa dilaksanakan oleh orang2 yg adil. Bila pelaksana hukum adalah orang2 zalim, maka hukum yg ada ya hukum zalim; meskipun hukumannya berkedok dan diberi embel2 Syariah Islam.

Sebagaimana diketahui, tokoh2 (lebih tepatnya penokoh) rakyat Aceh cenderung diam saja terhadap kejahatan korupsi, pembunuhan, dan perkosaan yg terjadi di Aceh. Dengan kata lain, mereka adalah orang2 zalim. Jadi bagaimana tiba2 sekarang orang2 zalim ini ingin menegakkan keadilan di Aceh dengan menerapkan hukum cambuk terhadap pelaku judi kecil2-an dan orang bermesraan. Padahal mereka berdiam diri atau turut serta dalam kejahatan yg lebih besar.

Di jaman pemerintahan Nabi & sahabat para penegak hukum Islam orang2 adil yg mengorbankan harta dan nyawanya demi kepentingan rakyat dan kebesaran Islam. Di jaman sekarang, pemerintah NAD, DPRD, dan TNI/Polri adalah orang2 yg memperkaya dirinya dengan menzalimi hak2 rakyat. Tidak mungkin orang2 zalim menegakkan hukum Islam.

Ketiga, motif pelaksanaan hukum Syariah. Sejak lama yg dituntut masyarakat Aceh adalah keadilan, yaitu berupa penegakan hukum terhadap para pelanggar Hak Asasi Manusia (HAM), khususnya dalam era Daerah Operasi Militer (DOM). Hukum harus ditegakkan terhadap mereka yg dengan semena-mena merampas hak2 kehidupan dari masyarakat.

Anehnya respon Jakarta terhadap tuntutan penegakan hukum bagi pelanggar HAM ini tidak terlihat. Rezim Jakarta lalu membelokkan tuntutan penegakan hukuman bagi pelanggar HAM menjadi isyu penegakan hukum Syariah Islam. Isyu penegakan hukum Syariah Islam hanya dijadikan alat politik oleh rezim Jakarta. Agama dijadikan sebagai instrumen untuk membiarkan pelanggaran HAM di Aceh dan bahkan mendorong perpecahan karena penerapan hukum berkedok Islam yang feodalis dan patriakis.

Masyarakat Aceh sadar betul keanehan hukum cambuk yg diterapkan di Aceh. Ini terbukti dari berbagai sinisme yang dilontarkan masyarakat terhadap perilaku orang2 yang ngotot dalam penegakan hukum cambuk bagi kejahatan2 kecil, tapi membebaskan penjahat2 besar. Lucunya lagi, mereka yg getol menyuarakan hukum Islam ini tidak berdaya terhadap pelanggaran2 hukum Islam yang dilakukan oleh TNI/Polri, DPRD, dan koruptor besar ala Abdullah Puteh.

So putuskan sendiri apakah hukum cambuk di Aceh itu benar hukum Islam????

Last Supper at Indian Mantra

October 20th, 2005 by pidie

Banyak restoran India di Jakarta. Dari sisi rasa Jewel of India (Hotel Ambara, Blok M) & Queen’s Tandoor (Plaza Permata, MH Thamrin) adalah favorit saya. Untuk yg mau santai, gaul, dan cukup murah, saya kira Papadam di Citos paling okay. Dulu, dari berbagai tempat, Mantra (PasaRaya Grande, Blok M) tetap favorit saya. Yah ada Kinara (Kemang) dan Hazara yg dekorasinya sangat wah, tapi Mantra tetap pilihan saya. Bahkan saya selalu menjamu teman2 saya di Mantra, bukan yg lain.

Sampai akhirnya mereka mengecewakan saya dan terpaksa saya buat kampanye anti Mantra. Kebetulan dimuat di Jakarta Post. Editor ‘Inside Jakarta’ (www.insidejakarta.com) ada nelpon untuk konfirmasi, tapi nggak jelas dimuat nggak itu surat kecaman. Mudah2-an udah tutup tuh restoran Mantra brengsek.

Buat manajer restoran, coba lah perlaku kan pelanggan sesuai harga yg dibayar, mahal2 dibayar kok layanan seperti warung tegal.

salam,
rz

====.

http://www.thejakartapost.com/yesterdaydetail.asp?fileid=20050315.F04

Last supper at Indian Mantra
Opinion and Editorial - March 15, 2005

On March 5, I took eight friends to dine at the Indian Mantra restaurant in Pasaraya Grande. When I ordered some food, I started to wonder why the menu offered a far shorter list than usual, with only three waiters compared with five to eight earlier.

Ordering five dishes, two breads and three portions of rice as a start, we waited for over an hour — usually the food is ready in about 15 to 25 minutes. I checked and found there were only two cooks compared with five during my previous visits.

When I asked the manager how much longer we would have to wait, he said the food would be served in five minutes. It did appear shortely after that but there was no rice, even after we ate for 10 minutes.

I told the manager that this was unacceptable, but he just replied, “It will not happen next week”. I said I was a regular customer and very disappointed. I brought my friends and was humiliated in front of them. Still, the manager responded, “Next week we will operate normally”.

Angered by this brush-off, I tossed my Indian Mantra membership card before other guests and said, “I’ve never had to wait for more than an hour to get my order”. Then a waiter brought in boxes of rice he had bought from another place.

The manager was pretending not to hear when I complained that he should not have treated his customers like this. When cancelling my order for other food, I had to pay a complete bill, including a 10 percent service charge, although I got no decent service and was entitled to a 10 percent discount as member.

SISWA RIZALI, Jakarta

Makan 2: Ganja sbg bumbu masakan Aceh????

September 25th, 2005 by pidie

Sebagai orang Aceh, dalam perjalanan saya ke berbagai daerah, ketika makan selalu timbul pertanyaan dari teman2: “Katanya di Aceh ganja digunakan sebagai bumbu masakan?”

Saya biasa balik bertanya:

-  Apa anda pernah makan masakan Aceh yg pakai bumbu ganja?

-  Apa teman kamu yang bercerita menyatakan pernah makan masakan Aceh yg pakai bumbu ganja?

Dan saya tahu pasti jawaban yg diberikan adalah “tidak” dilanjutkan: “katanya”…ya…hanya “katanya”.

Di Indonesia ini saya sudah dengar banyak “katanya”. Katanya indonesia kaya raya, kolam susu, tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Kok penghasilan per kapita rendah aka miskin terus ya??? Katanya Indonesia dijajah 350 tahun, meski faktanya Aceh masih diakui merdeka oleh Inggris & Belanda di tahun 1872. Kalau Indonesia merdeka 1945, dan Aceh adalah Indonesia, dan Aceh masih merdeka thn 1872, dapat darimana tuh 350 tahun??? Berhitung aja nggak becus.

===

Lihat link berikut mengenai “katanya” ganja sebagai bumbu:

Sumber : http://dunia-ibu.org/dapur/index.php?id=70

Kalau masakan Aceh biasanya suka dikasih campuran ganja sedikit. Katanya kalau di Aceh, ganja memang dipakai sebagai campuran bumbu masak, apalagi kalau gulai kepala ikan. (Du)

Mi Aceh yang Pakai "Tuâ", Kompas Kamis, 21 Juli 2005

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0507/21/metro/1893587.htm

Ini yg lebih netral, “Ada Ganja dalam Masakan Aceh?“, Kompas, Sabtu 23 Juli 2005

http://www.kompas.com/jalansutra/news/0507/23/192427.htm 

===

Kembali ke isu ganja sebagai bumbu masakan. Sampai sekarang, pendukung teori ini umumnya hanya berpegang pada “katanya”, tidak ada yg bisa menunjukkan bukti apa pun. Sayang “katanya” itu sudah menjadi kebenaran yg diterima apa adanya oleh orang-orang bodoh yg mendominasi negri lemot ini, mulai dari yg tidak berpendidikan, sampe yg punya gelar Doktor (spt Hamzah Haz itu), mulai yg pegawai kecil, ampe pejabat tinggi. Semuanya hanya “katanya” (pantas ini negri nggak bergerak kemana-mana, dikira masalah bisa selesai dengan “katanya”).

Seingat saya, pernyataan ganja sebagai bumbu masak di Aceh dilontarkan oleh Prof. Ali Hasjmi, mantan Gubernur Aceh & juga mantan ketua MUI Aceh. Ucapan itu muncul pertengahan 80-an or awal 90-an, ketika berita suburnya ganja semakin top.

Sebagian besar orang Aceh memandang Ali Hasjmi (AH) sbg seorang tokoh. Bagi saya, beliau seorang penokoh rakyat Aceh. Mengapa? Tulisan sejarah beliau terlalu banyak yg dipelintir. AH juga cenderung menulis tentang Aceh dan orang Aceh sebagai makhluk yg tidak ada cela, tidak mungkin salah. Semua yg berbau Aceh hanya ada baiknya! So ketika masalah banyaknya ganja di Aceh mendapat sorotan nasional, AH mencari pembenaran dengan menyatakan ganja adalah bumbu masakan.

What a bull shit! Apa dia punya bukti sejarah? Tantangan sama bagi yg menyatakan ganja adalah bumbu, apa kalian bisa menunjukkan bukti sejarah kepada saya?

Mari kita check faktanya!

Orang Eropa yg paling top mengenai sejarah & kebudayaan Aceh adalah Snouck Hurgronje (SH), dengan maha karya “De Atjehers” (sudah diterjemahkan dalam bhs Inggris dan Indonesia. Terjemahan Indonesia diterbitkan Balai Pustaka). Dalam buku paling top tentang Aceh itu, SH menggambarkan berbagai hal terkait dengan orang Aceh, mulai bangun tidur, makan, kerja, ibadah, sampe tidur lagi. Juga ada perayaan2, kepercayaan, dsb-nya. Termasuk didalam buku itu dibahas berbagai bumbu yang digunakan dalam masakan Aceh, juga ada info obat2-an tradisional. Tapi tidak ada satu pun yang menyatakan bahwa ganja (mariyuana or kanabis) digunakan sebagai bumbu. Menariknya, dalam rangka merendahkan orang Aceh, SH menyatakan bahwa orang Aceh juara madat (hisap candu) berhubung konsumsi candu per kapita orang Aceh jauh diatas rata2 konsumsi pe kapita nusantara (ingat, saat itu belum ada Indonesia).

Bila SH dengan sangat berlebihan menunjukkan hobi madat untuk merendahkan orang Aceh, mengapa dia luput memperhatikan kebiasaan pake ganja?? Apa SH kurang teliti?? Tapi dia mendaftar bumbu2 yg dipakai di Aceh. Apa SH belum kenal ganja? (tanya: ganja dikenal mulai tahun berapa sih di Eropa??). Atau memang pada saat itu ganja belum popular di Aceh?

Ahli ilmu sosial akan bilang, ya meskipun tidak ada bukti empiris/tertulis yg kuat, coba gali cerita dari mulut ke mulut. Okay, saya kembali bertanya, pernah nggak anda2 pendukung teori ganja sbg bumbu masak check cerita2 tsb ke orang2 tua?

Lagi2, krn faktor malas dan kebodohan, pasti jawabannya: TIDAK!

Waktu saya masih tinggal dan jalan ke berbagai daerah di Aceh (khususnya tahun 1990-1994), saya selalu meluangkan waktu untuk bertanya tentang hal ini. Apalagi waktu itu Daerah Operasi Militer (DOM) sedang berlangsung, dimana berita ganja di Aceh sangat rajin dihembuskan oleh TNI/Polri dan media2 nasional sbg antek Orba.

Hal yg saya temukan, pernyataan bahwa ganja sbg bumbu masakan ternyata muncul dari generasi yg lahir 1950-1960an, ya mereka yg besar di tahun 60&80-an. Contohnya ya Ibu, Makcik, dan Miwa saya, juga beberapa orang lain yg segenerasi. Nenek saya (dari pihak Ibu or Ayah, or nenek angkat) semua menyatakan tidak memakai ganja dalam masakannya. Demikian juga pernyataan beberapa kakek/nenek yg saya temui sepanjang perjalanan saya dari Lhok Seumawe, Bireuen, Samalanga, Meureudu, Sigli, Banda Aceh, terus ke Meulaboh, & Tapaktuan.

Karena pernyataannya saling berbeda, maka ada yg bohong tuh. Entah yg generasi Ibu/Makcik/Miwa, or Kakek/Nenek. Tapi kalau melihat sikap orang2 generasi setelah 1960-an suka pakai “katanya“, saya lebih percaya generasi kakek/nenek saya.

Kalau ditanya ke restoran yg top di Aceh pun, tidak ada yg bilang mereka pakai ganja dalam masakan. Boleh jadi mereka juga bohong. Yg jelas kalau anda tanya ke si juru masak dan dia tahu anda pendatang yg sedang nyari masakan pakai ganja, paling dijawab “Coba saja sendiri“, dengan senyum penuh tanda rahasia.

Bagi pedagang, itu jawaban rasional untuk menjual produknya. Apa mau anda calon pembeli pindah ke puluhan keude gule sie kameng (gule daging kambing) lain di sepanjang jalan di Aceh???

Nah kalau si penanya menyimpulkan bahwa itu masakan benar mengandung ganja, saya kira karena dia bodoh saja. Jump into conclusion fallacy!

Ada yg bilang, itu di resto Medan Baru (krekot bunder, Jakarta) ada yg jual “Sambel Ganja”. Well, lagi2 ketololon yg berlebihan. “Sambel Ganja”, di Aceh dikenal sebagai Asam Udeung (Asam Udang), dibuat dari: asam belimbing, udang direbus setengah masak, daun jeruk nipis (diiris2), dan sedikit sereh. Satu piring kecil modalnya nggak sampe seribu. Kalau dipakai judul “Asam Udang”, sumpah paling mahal cuma laku Rp 3000/porsi. Kalau pakai judul “Sambel Ganja”, orang2 bodoh yg punya duit akan beli pada harga Rp 5000-8000/ porsi (dgn isi sktr 3~4 sendok makan doang). Dan mereka bisa makan sampe 2 porsi setiap orang.

Kalau anda pedagang, pilih mana jual pada harga murah or mahal? Yg penting untung tahu!

Bagaimana saya percaya pendapat pendukung teori ganja sebagai bumbu masak, membedakan irisan daun jeruk dengan daun ganja dalam sambel udang saja tidak bisa!

Bukti2 lain tentang katanya ganja sebagai bumbu masak berasal dari perasaan yg muncul sedang/ setelah makan: tidak kenyang2, mengantuk, dada berdebar, pusing, dll. Well, dengan lemak kiloan di sekitar perut dan pantat anda yg malas, wajar anda mengantuk terus, baik saat lapar mau pun kenyang. Dasar lu orang malas. Kepala pusing dan dada berdebar?? Apa yg anda harapkan setelah makan berbagai lemak dan kolesterol dalam masakan Aceh? Badan jadi lebih fit??? Bloon kok nggak hilang2.

Masakan Aceh sangat dipengaruhi oleh masakan India (berbagai kari; dari kambing, ikan, ayam, apalagi kari daging ikan Hiu). Ganja juga istilah India tuh. Karena itu saya juga tanya kebiasaan pakai ganja di Asia bagian selatan kepada seorang peneliti yg lama tinggal di India, Banglades, Pakistan, dan sekitar. Dia juga penikmat kari. Dia bilang, di Nepal ada lassi yg pakai ganja. Tapi itu juga biasanya dijual untuk orang2 bule yg mencari sesuatu yg eksotis.

Yg jelas, masakan india juga sangat nikmat dan terkenal dimana2, tanpa perlu dikaitkan penggunaan ganja sebagai salah satu bumbunya. Sama kan dengan masakan turunanya, yaitu masakan Aceh.

Well, repot nih jadinya. Memang ganja udah dikenal dalam berbagai masyarakat, tapi saya masih ragu ganja adalah bumbu masakan di Aceh. Karena kurangnya bukti, yg ada adalah penyataan “katanya” dari generasi yg besar di tahun setelah 1960-an, masa ganja popular bersama the Doors, Led Zeppelin, Black Sabbath, dll. (check out “Sweet Leaf“ - Black Sabbath, http://www.azlyrics.com/lyrics/blacksabbath/sweetleaf.html ).

Pada saat bersamaan muncul buku2 yg mempromosikan ganja sebagai bumbu masakan, misal Adam Gottlieb’s, “Art and Science of Cooking with Cannabis” (High Times / Level Press, 1974). (see: http://www.cannabis.com/usage/usage1part1.shtml, - note, saya baru baca sedikit ini link).

Menurut saya, era 70-an ini lah ide2 tentang ganja berkembang pesat. Di Aceh, ide2 ganja ini berkembang, kebetulan, sejalan dengan operasi militer 1976-1982, 1989-1990-an. Dan bukan kebetulan bila ganja bisa bebas keluar Aceh karena keterlibatan oknum TNI/Polri, atau minimal: TNI/Polri tidak bertugas dengan baik, hanya malas2-an, dan makan gaji buta. (silahkan anda bilang saya benci TNI/Polri. Wajar lah, Bapak saya TNI yg ikut perang di Timor Timur. Abang saya polisi, masih aktif. Abang sepupu saya juga mampus sebagai polisi, konon ditembak GAM. Belum lagi yg sepupu AD, AL, Brimob, walah cape dah ngitungnya).

Saran saya buat pejabat/tokoh Aceh: jangan membenarkan keberadaan ganja di Aceh dgn mitos ganja sebagai bumbu masak. Pejabat/tokoh Aceh harus berani tegas2 menunjukkan mengapa ganja melimpah ruah di Aceh, yaitu lemahnya kemauan TNI/Polri menegakkan hukum! Boleh anda bilang ganja ditanam diam2, dirahasiakan dari aparat TNI/Polri. Tapi ingat, kayu haram dari Aceh juga bebas keluar ke Sumut di depan mata TNI/Polri. Lagi2 masalah kemauan menegakkan hukum!

Anda boleh bilang masalah ganja khas Aceh. Tapi jangan lupa, ganja juga bisa tumbuh dimanapun. Pernah ditemukan lahan luas di Sumut, Sumbar, Sukabumi, Jatim dll. Dan jangan anda urus masalah ganja di negri jauh entah dimana, di Jakarta di setiap pojok jalan orang bebas jualan narkoba. Pakai istilah “katanya“ lebih mudah beli pil koplo/ ekstasi daripada obat sakit kepala.

Akhirnya, satu saran buat yg suka makanan dgn bumbu ganja: berhentilah menggunakan ganja. Enakan ‘makan’ ekstasi/the ice/the cooler. ….Apalagi kalau dikombinasikan dengan booster mentol; dari rokok, permen, dan vicks vaporub sekalian. Sediakan es batu buat sistem pendingin. Plus Gabriel & Dresden, di pantai lagi! Fly with the devil to heaven in hell! Reap it! (see www.ecstasy.org ).

Makan 1 : Nasi Campur Bali

July 15th, 2005 by pidie

Mau makan yang pedes, lezat, dengan perpaduan rasa gurih dan segar? Well, coba Nasi Campur Bali. Ada tiga tempat saya biasa makan nasi bali, yaitu: Ajengan, Bebek Bengil, dan Pondok Prapanca. Semuanya di daerah Jakarta Selatan, tepatnya Kebayoran Baru (kebetulan saya memang tinggal Kebayoran Baru). Selain itu, yg top juga Bebek Bali, di Taman Ria Senayan.

Setiap Nasi Campur Bali terdiri dari lauk ayam berbumbu (atau bebek), sate, sayuran, sambel, dan telur ayam/bebek. Masakan ayamnya bisa Be Siap Tutu (ayam dimasak dengan bumbu bali), Be Siap Pelalah (ayam bakar dengan bumbu pedas bali), atau Be Siap Sisit (daging ayam digoreng dan disuwir-suwir dicampur bumbu terasi). Kalau bebek, enaknya ya di goreng garing.

Satenya ada dua pilihan, Sate Tusuk Sapi atau Sate Lilit Ayam. Paling hanya ada dua tusuk sate di setiap satu porsi nasi bali. Kalau anda penggemar sate, siap2 memesan satu porsi tambahan untuk memenuhi rasa ingin tahu anda. Buat yang belum pernah makan sate bali, perhatikan bahwa sate bali tidak memakai bumbu kecap/kacang seperti sate biasanya. Bumbu sate bali adalah rempah2 yang langsung dicampur dengan daging dan kemudian dibakar. Sehingga bumbunya menyatu dan menyerap dalam daging sate.

Sebagai penikmat masakan daging; ayam, sate, dan telur lah yang membuat nasi bali sangat lezat. Apalagi dipadu dengan rasa bumbu yang tajam dan rasa pedas.

Sayuran biasanya Jukut Kalas, yaitu campuran kacang panjang dan toge dengan bumbu kacang. Bisa juga Urap, dengan variasi campuran daun singkong, kacang panjang, kol, toge, dan kelapa bumbu. Pelengkapnya adalah Be Pindang Sambel Matah (atau Sambel Matah aja), sambel yang lebih seperti sayuran bawang dicampur dengan daging ikan tongkol suwir dan irisan cabe. Dua lauk ini yang menimbulkan rasa segar bercampur gurih. Di Bebek Bali, sambelnya malah tiga macam. Muaantap!

Tentunya di masing2 tempat ada variasi. Bagi saya yang paling lengkap dan sesuai selera ada di Ajengan. Di Bebek Bengil, ada tambahan kacang kedele goreng dan emping. Dua pelengkap yang saya sukai juga, karena rasa gurihnya semakin rame.

Kemana mengajak kencan anda makan nasi bali?

Terus terang, Pondok Prapanca bukan pilihan terbaik. Tempatnya terpencil, dibelakang Apotik Prapanca, dari namanya jelas di Jalan Prapanca (Kalau anda dari arah Pasaraya Blok M, Apotik Prapanca ada di sebelah kiri anda, sebelum Kantor Walikota Jakarta Selatan). Kelemahan lain dari Pondok Prapanca adalah jalan sempit dan tempat parkir terbatas (repot jika membawa mobil nih), ruangannya sederhana, dan waktu masak yang lama. Harga memang yang termurah. Tapi jangan sampe anda ditinggalkan pacar karena dianggap pelit sehingga rela mengajak kencan di tempat yang kurang menarik. Oh ya…di Pondok Prapacanca ada dua pilihan nasi bali yaitu Nasi Shangrila (porsi lengkap, Rp 20.000 net) dan Nasi Rames Bali (Rp 15.000 net).

Ajengan (Rp 30.000, belum termasuk pajak dan pelayanan 10%), Bebek Bengil (Rp 26.000, belum termasuk pajak dan pelayanan 15%), dan Bebek Bali (Rp 43900 + pajak dan pelayanan 20%) adalah tempat yang lebih baik untuk kencan.

Ajengan, seperti resto lain yang didirikan dilingkungan perumahan, lagi2 terbatas tempat parkirnya. Tapi suasana Ajengan benar2 menarik dengan arsitektur Bali, perabotan kayu, dekorasi ukiran kayu, dan lukisan2 bernuansa Bali. Musik yang diputar juga musik Bali. Suasana privacy benar2 tercipta bila anda memilih posisi duduk agak kepojok, sangat romantis. Jangan lupa, pesan Brem Bali (Rp 15.000), untuk menenangkan perut setelah makan besar (brem ini juga kelebihan Ajengan, karena di dua resto lain tidak ada minuman dari hasil fermentasi beras khas bali ini).

Bebek Bengil, sebagaimana restoran di mall, suasana modern lebih dominan dan tidak ada dekorasi yang menarik. Aspek praktis menjadi pertimbangan juga. Lokasinya strategis untuk makan dan juga jalan-jalan sejenak. Apalagi bila anda mau melanjutkan kencan ke caffee, ada Tator atau Etcetera, dan lanjut dugem ke Centro atau La Dolce Vita.

Bebek Bali, hmmmm paling okay tempatnya. Cuma paling mahal juga. Seperti Bebek Bengil, letaknya juga strategis, abis dinner banyak pilihan hiburan lain tuh, mau lounge or lainnya.

Selain nasi bali, tentunya banyak menu lain di keempat restoran tersebut, termasuk favorit saya adalah Bebek Goreng.

Ajengan, Jl. Panglima Polim I, No. 65, Jakarta Selatan, telpon: 021-7220227.
Bebek Bengil, Dharmawangsa Square - The City Walk, Lt. dasar, Jl. Dharmawangsa VI-IX, Jakarta Selatan, telpon 021-72788308.
Bebek Bali, Taman Ria Senayan, Jalan Gerbang Pemuda, Phone (021) 574 7224 or 7667.
Pondok Prapanca, Jl. Nipah XV No.3, Jakarta Selatan, telpon 021-722 1985.

beberapa link

July 14th, 2005 by pidie

wah gw cari file tulisan lama entah dimana. jangan2 udah ancur tuh semua file waktu notebook tua gw crash. udah lah, gw pasang link tulisan yg di Ibonweb aja.

tapi inggrisnya kaco, ya karena gw nggak jago inggris, ya karena editornya kurang okay. bahkan ada makna tulisan yg berubah gara2 diedit.

Will Rupiah Appreciation Continue? Ini tulisan versi Indonesia-nya gw masukin ke Koran Tempo, 6 agustus 2001, dgn judul   “Prospek Nilai Tukar Rupiah”. Ini tulisan pertama di media, dibuat di tempat teman baik gw Hendra, di Puri Casablanca (ingat nggak Ndra, waktu itu gw nganggur nggak jelas, jadi semangat nulis).

Tulisan yg lain adalah “Catatan Kegagalan Program Stabilisasi Moneter Indonesia” (publikasi di Bisnis Indonesia, 27 September 2001). Versi Indo ini lengkap, pake grafik segala. Versi ringkasnya dlm bahasa inggris, lagi2 gw posting di Ibonweb dgn judul "The Myth of Tight Monetary Policy". salah satu tulisan terbaik gw, sampe pernah direposting di situs regional asia, www.asiafeatures.com (sayang ini situs udah mati).

Di awal 2003, gw diajak ama Bang Faisal untuk jadi narasumber di radio Delta (radio-nya orang2 tua nih). Bahasannya mengenai pertumbuhan ekonomi. Habis ngomong di radio, langsung semangat nulis. jadi deh opini yg berjudul “Mengkritisi Pertumbuhan Ekonomi Paska Krisis” (Koran Tempo, 10 Maret 2003). seperti biasa, rangkuman versi bhs inggris gw posting lagi di Ibonweb dgn judul "Unsustainable Economic Growth".

yah cukup segitu dulu latihannya….besok sambung lagi.

buat teman2 yg baca, jangan ragu2 mengkritik. gw biasa kalo dapat kritikan, bagaikan mesin diesel yg panas: jadi lebih kencang mikirnya dan lebih produktif. maklum, seperti gw bilang ama teman2: kalo gw masih nyela lu, itu semata2 karena gw masih perhatian dan cinta ama lu. jadi bersyukur lah….

wah benar2 harus berhenti, mata mulai terasa perih…

Skema Piramid dan Media

July 14th, 2005 by pidie

Ini tulisan gw buat karena kesal ama media2 di Indonesia yg suka asal nulis tentang berbagai usaha yg: mudah dan banyak uang. padahal itu usaha kebanyakan bohong adanya.

Herannya, media macam kompas juga terjebak pada bombastis yg sama, waktu itu kebetulan Anne Ahira yg diliput.

gw coba nulis surat pembaca, nggak dimuat. gw posting pendapat di milis orang2 media, pura2 nggak tahu.

terpaksa gerilya dan aliansi ama teman2 netters, lalu dari saran Bung Andreas Harsono (mantan editor Jktpost), gw buat deh tulisan panjang lebar. tulisan ini sebenarnya restatement dari posting2 yg sama sejak tahun 2001, waktu Probest lagi berjaya. jadilah tulisan "Skema Piramid, Media, dan Pembodohan Masyarakat".