Resto & Warung Mie Aceh
Kamis, 22 September 2005, saya membawa rombongan para perempuan berbagai umur dan ukuran ke resto Aceh Meutia, di Bendungan Hilir (Benhil, sekitar 100 meter dari Sudirman, sisi kanan, dekat ATM BCA), Jakarta (yep, mereka kelompok yg berpendapat sebutan “wanita” sbg kata yg memarginalkan). Makan lah kita bersama dan saya menjadi informan, baik jalan maupun masakannya.
Melihat mereka makan, sadar lah saya bahwa selera makan mereka di resto Aceh selalu diatas rata2 kapasitas sehari2. Hmmm, the power of hot spice!
Bagi mereka yg pernah berkunjung ke Aceh, masakan Aceh menjadi suatu daya tarik khusus. Dengan variasi masakan, khususnya kari dan turunannya, seperti tidak ada henti kejutan baru setiap mencoba suatu makanan.
Kembali ke Jakarta, kerinduan akan masakan Aceh muncul. Tapi kalau harus pergi ke Aceh sekedar buat makan, hmmmm…high cost economy dan tidak sesuai dengan program penghematan SBY-JK yg sudah terlupakan itu.
Mau makan masakan Aceh dimana di Jakarta?
Pada masa kuliah dulu, ‘92-’96, saya biasa makan di resto Delima, Pasar Kenari, Salemba, Jakarta. Tapi itu resto udah lama hilang, hampir bersamaan dengan hilangnya resto Selera Kita di Jl Juanda, Jakpus (atau ada yg tahu dimana kedua resto itu berada skrg? Plis bagi info ke rpidie@yahoo.com). Kedua resto ini dulu sangat dikenal orang2 Aceh di Jakarta; tempat makannya bos2 Aceh gitu.
Pilihan yg sangat otentik, sebenarnya ada di tengah Pasar Minggu, area yg pernah jadi kampungnya orang Aceh di Jakarta. Banyak warung nasi & mie Aceh di tengah pasar tsb. Coba aja masuk melalui jalan di tengah antara gedung Ramayana/Robinson, ke bagian belakang pasar, nyebrang kali kecil. Naik tangga disisi kanan, pas abis itu tangga mulai terasa suasana kampungnya Aceh: keude kupi, warung nasi/mie Aceh.
Meskipun masakannya enak dan murah, tapi ini bukan tempat makan yg menyenangkan. Gila itu becek, berbagai bau pasar, plus sayup2 aliran air bau dari kali kecil. Sebaiknya bungkus makanan pilihan dan cabut!
Tempat lain, yg sangat top setelah Delima & Selera Kita berlalu, adalah Rumah Makan Seulawah. Sebuah rumah makan sederhana berlokasi di Bendungan Hilir Raya, Jakarta Selatan persis di depan Rumah Sakit Angkatan Laut Mintoharjo (masih tetangga Resto Aceh Meutia).
Restoran Medan Baru, di Krekot Bunder, juga menyediakan masakan Aceh, selain ada masakan Padang. Mungkin orang menganggap sama saja, toh sama2 kuning/ merah dengan kuah santan. Tapi sebenarnya kedua jenis masakan tsb sangat berbeda. Masakan Padang padat santan, dengan pedes dominan dari cabe. Kari, yg jadi salah satu ciri khas masakan Aceh, padat oleh berbagai bumbu dengan pedas dominan dari bumbu tersebut.
Favorit saya sudah standar: satu porsi kari kambing, satu potong telur ikan, satu potong eungkot muloh asam keueng (asam pedas ikan bandeng, - biasa saya pilih bagian kepala), plus asam udang & acar timun (atau nanas). Silahkan coba juga yg lain: kari bebek, kari ayam, eungkot kaye (ikan kayu or kemamah), kari ikan, udeung masak mirah (udang masak merah), dll.
Untuk sayur ada kuah pliek u, yang terbuat dari berbagai potongan kecil sayuran (seperti kacang panjang, daun/buah melinjo, terong, cabe) dimasak dengan santan dan bungkil kelapa (pliek u). Mirip lodeh, tapi dengan rasa yg lebih tajam.
Makanan yang tidak pernah saya temukan: gule engkot ye (kari ikan hiu). Bila orang Cina terkenal dengan masakan sirip ikan Hiu, maka orang Aceh (meniru orang India) ahli dalam memasak daging ikan Hiu. Saya juga tidak pernah menemukan kari kepala kambing (di Aceh biasanya bagian favorit dari satu belanga besar kari kambing).
Satu menu baru yang populer di Aceh sekarang ini adalah: ayam sampah (beberapa menyebutnya ayam tsunami, nebeng top dari bencana yg baru terjadi). Namanya sesuai tampilannya yang seperti daging dicampur dalam sampah daun2-an: pandan, jeruk nipis, sereh, bawang merah, tumurui (daun kari). Bagi saya, ini versi malas daripada ayam daun pandan yg jadi menu favorit di resto Thai!
Saran saya: makan lah yg banyak. Karena kita semua perlu kolesterol sebanyak mungkin. Apa pun jenisnya!
Untuk mie Aceh, dulu paling top ya Bangladesh, tepat di simpang sebelum belokan Gereja di Pasar Minggu (kalau anda datang dari arah Depok). Konon ini Bangladesh ada hubungannya dengan Keude Kupi Bangladesh yg top di Banda Aceh itu.
Belakangan muncul Pidie 2000, di jalan Margonda Raya (fren, I don’t have share in that place, we just come from the same side of the country. And yes, I love my nickname Pidie, I even once claim several webmail with that name, pidie@lycos.com, pidie@rocketmail.com, etc). Pidie 2000 ini cukup dikenal oleh kalangan mahasiswa sekitar Margonda.
Di Blok M silahkan cari kelompoknya bang Jaly2 (juga tidak ada hubungannya dengan saya), ada di basement Blok M Mall, or terminal Blok M, Kebayoran Baru, Jaksel. Singgah juga di Mie aceh yg ada di depan Asrama Aceh FOBA, Jl. Setiabudi Barat, masuk enakan dari Jln. Sudirman.
Sepertinya mie Aceh udah cukup menyebar rata di Jakarta, maklum saya juga melihat di beberapa tempat lain, seperti Ciputat (kampung ke2 bagi warga Aceh di Jakarta), Kebayoran Lama, dan keluar tol menuju Taman Mini.
Waktu jalan ke Bogor pun saya sempat singgah di sebuah warung nasi/mie Aceh, yg jadi favorit teman saya. Tapi saya lupa letaknya dimana.
Bila anda makan mie Aceh, minta lah dikurangi pedasnya. Maklum, si juru masak punya kepercayaan bahwa semakin pedas mie-nya, semakin enak rasanya!
November 14th, 2005 at 8:06 am
Jal, gue pernah makan gulai ikan hiu di restoran aceh yg di jln Casablanca. Restorannya dari Meridien ke arah kuburan karet sebelah kiri deket lampu merah penyebrangan orang. Namanya kalau nggak salah Seulawah (nggak tahu sama nggak dng yg di benhil). Tapi sdh lama banget,entah masih ada atau nggak. Dulu diajak teman kantor gue yg org Bireun. Waktu itu sih rasanya biasa aja kayaknya. Belum ada yg ngalahin Medan Baru (THE BEST!)
February 12th, 2006 at 5:50 pm
Mantap!!
Gue catet abis tempat2 ini. Daftarnya lebih penting daripada gov’t budget, inflasi, etc.
Thanks for sharing, Sis.
July 7th, 2006 at 4:08 pm
gomong2 makan jadi laper, disini makan aja sekali sehari..