Archive for July, 2005

Makan 1 : Nasi Campur Bali

Friday, July 15th, 2005

Mau makan yang pedes, lezat, dengan perpaduan rasa gurih dan segar? Well, coba Nasi Campur Bali. Ada tiga tempat saya biasa makan nasi bali, yaitu: Ajengan, Bebek Bengil, dan Pondok Prapanca. Semuanya di daerah Jakarta Selatan, tepatnya Kebayoran Baru (kebetulan saya memang tinggal Kebayoran Baru). Selain itu, yg top juga Bebek Bali, di Taman Ria Senayan.

Setiap Nasi Campur Bali terdiri dari lauk ayam berbumbu (atau bebek), sate, sayuran, sambel, dan telur ayam/bebek. Masakan ayamnya bisa Be Siap Tutu (ayam dimasak dengan bumbu bali), Be Siap Pelalah (ayam bakar dengan bumbu pedas bali), atau Be Siap Sisit (daging ayam digoreng dan disuwir-suwir dicampur bumbu terasi). Kalau bebek, enaknya ya di goreng garing.

Satenya ada dua pilihan, Sate Tusuk Sapi atau Sate Lilit Ayam. Paling hanya ada dua tusuk sate di setiap satu porsi nasi bali. Kalau anda penggemar sate, siap2 memesan satu porsi tambahan untuk memenuhi rasa ingin tahu anda. Buat yang belum pernah makan sate bali, perhatikan bahwa sate bali tidak memakai bumbu kecap/kacang seperti sate biasanya. Bumbu sate bali adalah rempah2 yang langsung dicampur dengan daging dan kemudian dibakar. Sehingga bumbunya menyatu dan menyerap dalam daging sate.

Sebagai penikmat masakan daging; ayam, sate, dan telur lah yang membuat nasi bali sangat lezat. Apalagi dipadu dengan rasa bumbu yang tajam dan rasa pedas.

Sayuran biasanya Jukut Kalas, yaitu campuran kacang panjang dan toge dengan bumbu kacang. Bisa juga Urap, dengan variasi campuran daun singkong, kacang panjang, kol, toge, dan kelapa bumbu. Pelengkapnya adalah Be Pindang Sambel Matah (atau Sambel Matah aja), sambel yang lebih seperti sayuran bawang dicampur dengan daging ikan tongkol suwir dan irisan cabe. Dua lauk ini yang menimbulkan rasa segar bercampur gurih. Di Bebek Bali, sambelnya malah tiga macam. Muaantap!

Tentunya di masing2 tempat ada variasi. Bagi saya yang paling lengkap dan sesuai selera ada di Ajengan. Di Bebek Bengil, ada tambahan kacang kedele goreng dan emping. Dua pelengkap yang saya sukai juga, karena rasa gurihnya semakin rame.

Kemana mengajak kencan anda makan nasi bali?

Terus terang, Pondok Prapanca bukan pilihan terbaik. Tempatnya terpencil, dibelakang Apotik Prapanca, dari namanya jelas di Jalan Prapanca (Kalau anda dari arah Pasaraya Blok M, Apotik Prapanca ada di sebelah kiri anda, sebelum Kantor Walikota Jakarta Selatan). Kelemahan lain dari Pondok Prapanca adalah jalan sempit dan tempat parkir terbatas (repot jika membawa mobil nih), ruangannya sederhana, dan waktu masak yang lama. Harga memang yang termurah. Tapi jangan sampe anda ditinggalkan pacar karena dianggap pelit sehingga rela mengajak kencan di tempat yang kurang menarik. Oh ya…di Pondok Prapacanca ada dua pilihan nasi bali yaitu Nasi Shangrila (porsi lengkap, Rp 20.000 net) dan Nasi Rames Bali (Rp 15.000 net).

Ajengan (Rp 30.000, belum termasuk pajak dan pelayanan 10%), Bebek Bengil (Rp 26.000, belum termasuk pajak dan pelayanan 15%), dan Bebek Bali (Rp 43900 + pajak dan pelayanan 20%) adalah tempat yang lebih baik untuk kencan.

Ajengan, seperti resto lain yang didirikan dilingkungan perumahan, lagi2 terbatas tempat parkirnya. Tapi suasana Ajengan benar2 menarik dengan arsitektur Bali, perabotan kayu, dekorasi ukiran kayu, dan lukisan2 bernuansa Bali. Musik yang diputar juga musik Bali. Suasana privacy benar2 tercipta bila anda memilih posisi duduk agak kepojok, sangat romantis. Jangan lupa, pesan Brem Bali (Rp 15.000), untuk menenangkan perut setelah makan besar (brem ini juga kelebihan Ajengan, karena di dua resto lain tidak ada minuman dari hasil fermentasi beras khas bali ini).

Bebek Bengil, sebagaimana restoran di mall, suasana modern lebih dominan dan tidak ada dekorasi yang menarik. Aspek praktis menjadi pertimbangan juga. Lokasinya strategis untuk makan dan juga jalan-jalan sejenak. Apalagi bila anda mau melanjutkan kencan ke caffee, ada Tator atau Etcetera, dan lanjut dugem ke Centro atau La Dolce Vita.

Bebek Bali, hmmmm paling okay tempatnya. Cuma paling mahal juga. Seperti Bebek Bengil, letaknya juga strategis, abis dinner banyak pilihan hiburan lain tuh, mau lounge or lainnya.

Selain nasi bali, tentunya banyak menu lain di keempat restoran tersebut, termasuk favorit saya adalah Bebek Goreng.

Ajengan, Jl. Panglima Polim I, No. 65, Jakarta Selatan, telpon: 021-7220227.
Bebek Bengil, Dharmawangsa Square - The City Walk, Lt. dasar, Jl. Dharmawangsa VI-IX, Jakarta Selatan, telpon 021-72788308.
Bebek Bali, Taman Ria Senayan, Jalan Gerbang Pemuda, Phone (021) 574 7224 or 7667.
Pondok Prapanca, Jl. Nipah XV No.3, Jakarta Selatan, telpon 021-722 1985.

beberapa link

Thursday, July 14th, 2005

wah gw cari file tulisan lama entah dimana. jangan2 udah ancur tuh semua file waktu notebook tua gw crash. udah lah, gw pasang link tulisan yg di Ibonweb aja.

tapi inggrisnya kaco, ya karena gw nggak jago inggris, ya karena editornya kurang okay. bahkan ada makna tulisan yg berubah gara2 diedit.

Will Rupiah Appreciation Continue? Ini tulisan versi Indonesia-nya gw masukin ke Koran Tempo, 6 agustus 2001, dgn judul   “Prospek Nilai Tukar Rupiah”. Ini tulisan pertama di media, dibuat di tempat teman baik gw Hendra, di Puri Casablanca (ingat nggak Ndra, waktu itu gw nganggur nggak jelas, jadi semangat nulis).

Tulisan yg lain adalah “Catatan Kegagalan Program Stabilisasi Moneter Indonesia” (publikasi di Bisnis Indonesia, 27 September 2001). Versi Indo ini lengkap, pake grafik segala. Versi ringkasnya dlm bahasa inggris, lagi2 gw posting di Ibonweb dgn judul "The Myth of Tight Monetary Policy". salah satu tulisan terbaik gw, sampe pernah direposting di situs regional asia, www.asiafeatures.com (sayang ini situs udah mati).

Di awal 2003, gw diajak ama Bang Faisal untuk jadi narasumber di radio Delta (radio-nya orang2 tua nih). Bahasannya mengenai pertumbuhan ekonomi. Habis ngomong di radio, langsung semangat nulis. jadi deh opini yg berjudul “Mengkritisi Pertumbuhan Ekonomi Paska Krisis” (Koran Tempo, 10 Maret 2003). seperti biasa, rangkuman versi bhs inggris gw posting lagi di Ibonweb dgn judul "Unsustainable Economic Growth".

yah cukup segitu dulu latihannya….besok sambung lagi.

buat teman2 yg baca, jangan ragu2 mengkritik. gw biasa kalo dapat kritikan, bagaikan mesin diesel yg panas: jadi lebih kencang mikirnya dan lebih produktif. maklum, seperti gw bilang ama teman2: kalo gw masih nyela lu, itu semata2 karena gw masih perhatian dan cinta ama lu. jadi bersyukur lah….

wah benar2 harus berhenti, mata mulai terasa perih…

Skema Piramid dan Media

Thursday, July 14th, 2005

Ini tulisan gw buat karena kesal ama media2 di Indonesia yg suka asal nulis tentang berbagai usaha yg: mudah dan banyak uang. padahal itu usaha kebanyakan bohong adanya.

Herannya, media macam kompas juga terjebak pada bombastis yg sama, waktu itu kebetulan Anne Ahira yg diliput.

gw coba nulis surat pembaca, nggak dimuat. gw posting pendapat di milis orang2 media, pura2 nggak tahu.

terpaksa gerilya dan aliansi ama teman2 netters, lalu dari saran Bung Andreas Harsono (mantan editor Jktpost), gw buat deh tulisan panjang lebar. tulisan ini sebenarnya restatement dari posting2 yg sama sejak tahun 2001, waktu Probest lagi berjaya. jadilah tulisan "Skema Piramid, Media, dan Pembodohan Masyarakat".